Sabtu, 12 Mei 2012

Resensi Nyonya Besar


Oleh :  Threes Emir
Tags :  Novel,    Metropop,    Sosialita,    Ibu
Terbit : Februari 2012
Sinopsis :
Nyonya Besar adalah nyonya penggemar tas merek tertentu yang harganya selangit, ia kesal sekali melihat begitu banyak wanita yang ikutan menentengnya, padahal tas mereka palsu.
Nyonya Besar adalah istri seorang direktur yang gemar musik klasik dan berdansa ballroom, sementara suaminya penikmat musik dangdut. Setengah mati sang Nyonya Besar ingin mengubah selera musik suaminya, namun tak berhasil.
Nyonya Besar adalah seorang nyonya baik hati yang tidak hanya membiayai sekolah anak-anak sopirnya, bahkan juga mengirim si sopir dan istrinya ke Mekah untuk naik haji.
Nyonya Besar adalah seorang ibu yang dengan indra keenamnya mampu melihat anak gadisnya menjadi ”simpanan” pejabat dan dengan tegas membawa kembali putrinya pulang.
Jangan-jangan salah satu Nyonya Besar dalam buku ini punya kisah yang sama dengan Anda atau orang yang Anda kenal….

Minggu, 06 Mei 2012

Biaya Kuliah di PTN Yang Semakin Mahal



BANDUNG, RIMANEWS-Pendidikan merupakan hak semua masyarakat, tapi kenyataan untuk bisa sekolah di jenjang perguruan tinggi termasuk di perguruan tinggi negeri (PTN) semakin hari semakin mahal.
Contoh kasus, untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), seorang mahasiswa harus merogoh kocek hingga Rp100 juta agar bisa lulus, atau sekitar Rp25 juta per tahun.
Uang sebesar itu dihabiskan mulai dari proses pendaftaran mahasiswa baru hingga diwisuda. "Normalnya, per mahasiswa membutuhkan Rp100 juta per empat tahun atau sejak masuk hingga lulus," ujar Wakil Rektor ITB Bidang Komunikasi Kemitraan dan Alumni Hasanudin Z Abiddin kepada wartawan di Gedung Rektorat ITB, Jalan Tamansari, Kamis (13/1/2011).
Tingginya biaya kuliah tersebut tentunya sangat memberatkan masyarakat di tengah melambungnya biaya hidup, mulai dari kenaikan harga bahan kebutuhan pokok, naiknya tarif dasar listrik hingga terus melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM).
Dengan kondisi tersebut, pendidikan murah, khususnya jenjang pendidikan tinggi, yang dijanjikan pemerintah melalui kebijakan 20% alokasi anggaran pendidikan dalam APBN dan APBD ini, dipastikan tidak akan dirasakan
masyarakat.
Namun di sisi lain, penyelenggaran pendidikan murah juga menuai dilema bagi pengelola universitas negeri. Pasalnya, dengan status Badan Hukum Milik Negera (BHMN), universitas tidak lagi mendapat pasokan subsidi yang memadai dari pemerintah. Universitas negeri dituntut mencarisendiri sumber keuangannya.
Pada tahun-tahun sebelumnya, untuk mengatasi keterbatasan dana yang dimiliki, universitas mempunyai cara ampuh yakni membuka lebar penerimaan mahasiswa baru melalui jalur khusus di luar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Tinggi (SNMPTN).
Para mahasiswa jalur khusus tersebut dikenakan biaya kuliah jauh lebih besar dibandingkan mahasiswa jalur reguler yang melalui SNMPTN. Mereka bisa dikenakan dana sumbangan pembangunan mulai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah tergantung kemampuan masing-masing. Dana yang diperoleh dari mahasiswa 'kaya' tersebut digunakan untuk mensubsidi mahasiswa 'miskin.
Namun mulai tahun ajaran 2011 ini cara tersebut tidak bisa lagi dengan leluasa dilakukan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 34/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, PTN hanya dibolehkan menjaring mahasiswa baru melalui jalur khusus sebesar 40% sisanya harus lewat SNMPTN yang digelar secara nasional.
PTN pun dibebankan kewajiban untuk mengakomodasi mahasiswa kurang mampuuntuk tetap bisa kuliah. Seusai Peraturan Pemerintah No 66/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, PTN wajib menampung 20% mahasiswa dari kalangan miskin dari total mahasiswa baru
yang diterimanya tiap tahun.
Hasanudin mengakui, hal tersebut cukup berat. Dengan asumsi jumlah mahasiswa baru sebanyak 3.300, untuk tahun ini ITB harus menanggung beban biaya kuliah sekitar 600 mahasiswa. "Dengan asumsi itu, ITB harus mencari mencari setidaknya Rp60 miliar untuk menanggung mahasiswa miskin," tandas Hasanudin.
ITB menghapuskan jalur khusus ini karena tidak mau disebut menjual kursi sebagai sumber pendapatan kampus. Karena itu, selain mengandalkan pendapatan dari mahasiswa reguler, ITB juga berupaya mencari sumber lain untuk membiayai mahasiswa 'miskin' tersebut.
Seperti dari program coorporate social responsibility (CSR), dana ikatan alumni (IA), kerja sama industri, kerja sama pemerintah daerah (pemda), serta kerja sama penelitian.
Hasan menegaskan, ITB terus berupaya mencari pendanaan untuk kelangsungan proses perkuliahan mahasiswa dan biaya operasional kampus. "Dana itu tanggung jawab kami, yang penting, siswa pintar tapi tidak punya uang dan ingin masuk ITB, daftar saja dulu, jangan takut," tukasnya.
Komitmen menanggung biaya mahasiswa 'miskin' juga ditunjukkan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Rektor Unpad Bandung Ganjar Kurnia menegaskan, tahun ini akan menerima sekitar 500 mahasiswa baru dari jalur bidik misi yang merupakan program beasiswa pemerintah untuk mahasiswa tidak mampu.
"Kita khususkan program pemerintah kepada mahasiswa tidak mampu," ujar Rektor Unpad Ganjar Kurnia saat dihubungi wartawan, Kamis (13/1/2011). Unpad pun tetap membuka ujian jalur khusus sebanyak 40% yang dananya digunakan untuk menyubsidi mahasiswa 'miskin'.
Komitmen kedua PTN ternama di Bandung ini tentunya menjadi kabar gembira bagi para orang tua yang akan menyekolahkan putra-putrinya ke perguruan tinggi. Mudah-mudahan langkah ini diikuti pula PTN-PTN lain.
Di pihak lain, pemerintah pun bisa memenuhi janji untuk meningkatkan pendidikan anak bangsa. Sehingga cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa yang diamanatkan UUD bisa secepatnya terwujud.(Ins)

Sebab Biaya Sekolah Yang Semakin Mahal

Pendidikan mahal! Koreksi, yang betul adalah biaya sekolah mahal. Pendidikan tidak pernah mahal karena pendidikan berarti usaha penanaman nilai-nilai kehidupan. Ini adalah porsinya orang tua, bukan sekolah. Biaya sekolah mahal! Nah, ini baru pas. Sudah banyak yang menulis mengenai mahalnya biaya sekolah di Indonesia dan penyebabnya. Secara umum, pemerintah dipersalahkan karena kurang memberikan anggaran lebih banyak kepada Departemen DikNas. Tulisan ini mencoba menelaah besarnya biaya sekolah di Indonesia lewat komponen-komponen penyebab mahalnya biaya sekolah itu sendiri. Besarnya biaya belajar para siswa di Indonesia disebabkan oleh tiga hal.
Seragam sekolah adalah penyebab pertama mahalnya biaya bersekolah para siwa di Indonesia. Aneh, kok seragam sekolah? Tentu saja. Tidak ada anak Indonesia yang mau bersekolah jika mereka tidak memilik seragam. Bahkan mereka yang bisa bersekolah tanpa seragam pun justru merasa belum menjadi murid sungguhan karena belum punya seragam sekolah. Tanpa disadari, komponen kecil yang satu ini menjadi momok tersendiri bagi para orang tua murid dan murid sekolah di Indonesia. Tak perlu susah memikirkannya seperti apa. Saat anak masuk sekolah pertama kali, kelas satu SD, mereka sudah wajib memiliki seragam. Sekaya apapun anak tersebut, dia tidak boleh menjadi murid di suatu sekolah apabila ia belum memilik seragam. Kalau anak orang kaya saja tidak boleh bersekolah tanpa seragam apalagi orang miskin. Tidak sampai di situ saja, membeli seragam sekolah pun tidak bisa cuma sekali. Seiring dengan perkembangan fisik anak, orang tua setiap tahun harus memperbaharui baju sekolah anak mereka. Makin cepat perkembangan fisik seorang anak, makin sering pula orang tua harus membeli seragam baru bagi anaknya. Kalau anaknya cuma satu masih enak. Bagaimana yang anakya lebih dari satu? Punya dua pasang anak kembar? Belum sampai di situ, seragam siswa SD, SMP, dan SMA memiliki perbedaan. Baju seragam putih tapi celananya merah (SD), biru (SMP), dan abu-abu (SMA). Dan yang membuat lebih repot lagi adalah kecenderungan setiap sekolah untuk mengharuskan siswanya memakai seragam khusus, batik, pada hari tertentu. Seolah belum cukup membebani orang tua siswa dengan membeli seragam harian, misalnya putih abu-abu (SMA), orang tua harus mengeluarkan anggaran lagi untuk membeli seragam batik. Entah siapa pula yang mengeluarkan gagasan ini kepada sekolah-sekolah di negara ini. Padahal dulu, murid sekolah, SMP dan SMA, hanya memekai seragam harian saja tanpa ada keharusan memakai baju batik pada hari khusus. Dengan cara ini, pemerintah dan sekolah telah sukses melakukan konspirasi dalam membuat biaya bersekolah menjadi lebih mahal dibandingkan dua dekade yang lalu. Kalau argumentasi ini masih diragukan, bagi anda yang sudah memiliki anak, mulailah berhitung tentang uang yang sudah dihabiskan untuk biaya seragam anak anda sendiri mulai dari SD hingga SMA. Cari lagi bon-bon pembelian seragam sekolah itu dan jangan lupa untuk menyesuaikan uang yang telah dikeluarkan dulu dengan tingkat inflasi sekarang.
Beban biaya sekolah juga disebabkan oleh komponen buku pelajaran. Dari dulu sampai sekarang, orang tua murid harus menyediakan sendiri buku pelajaran sekolah bagi anak-anak mereka. Buku apa yang digunakan oleh murid sekolah tergantung dari persetujuan bisnis antara pihak sekolah dan penerbit buku. Seandainya orang tua murid harus membeli buku dari penerbit A dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar, maka ini bukan perkara besar. Sayangnya, pengandaian itu selamanya terjadi dalam kenyataan. Tidak jarang harga buku yang dijual di sekolah lebih tinggi daripada harga pasar, harga toko buku. Ini bisa terjadi karena, satu, adanya oknum sekolah yang ingin meraup keuntungan sendiri dan karena penerbit buku harus membayar komisi besar kepada sekolah sehingga mereka membebankan biaya komisi itu pada orang tua murid. Dalam situasi ini, orang tua murid yang kritis bisa saja menolak membeli buku dari sekolah dan mencari sendiri di toko buku yang ada di sekitarnya, yang tentunya tidak bisa dilarang oleh pihak sekolah. Namun yang terjadi pada anak orang tua murid itu bisa ditebak. Anak itu akan disindir dan dicela oleh oleh pihak sekolah--guru, staf sekolah atau, bahkan, kepala sekolahnya sendiri. Yang dilakukan oleh pihak sekolah jelas salah sedangkan yang dilakukan oleh orang tua murid adalah benar. Dan yang menjadi korban adalah si murid itu sendiri. Dia menderita dan bisa mengalami depresi. Tidak membeli buku dari sekolah tiba-tiba menjadi sebuah dosa atau aib bagi diri murid itu. Pengadaan buku secara gratis dengan sistem online oleh DikNas, seperti yang dilakukan tahun lalu, ternyata belum bisa menyelesaikan persoalan mahalnya pengadaan buku. Belum tersediannya fasilitas internet yang menjangkau masyarakat di daerah pedesaan atau terpencil menjadi kendala bagi para murid dan orang tuanya. Pun, seandainya mereka memiliki akses ke internet, biaya pencetakan buku menjadi kendala lainnya. Untuk membuat masalah menjadi lebih rumit, DikNas memilik hobi untuk mengganti-ganti kurikulum nasional sesuka hatinya. Penggantian kurikulum jelas akan berimbas pada buku pelajaran para murid. Sewaktu bersekolah dulu, buku pelajaran saya masih bisa dipakai oleh adik saya, yang duduk dua kelas di bawah saya, karena kurikulum nasional tidak mengalami perubahan yang berarti, dari tahun 1984 loh.
Biaya-biaya tambahan saat bersekolah menjadi penyebab ketiga dari mahalnya bersekolah di Indonesia. Biasanya, pengeluaran rutin orang tua murid untuk biaya sekolah anaknya adalah:
    1.    Iuran sekolah (bulanan, puji syukur kalau tidak pernah naik)
    2.    Seragam (tahunan, syukur kalau badan anaknya tidak melebar ke samping)
    3.    Buku pelajaran (tahunan, Berat memang kalau anak terus naik kelas tapi siapa yang mau anaknya tidak pernah naik kelas)
    4.    Biaya Study Tour (biasanya cuma sekali, buat SMP dan SMA, dan ini juga tergantung tempat tujuan kunjungannya, makin jauh makin mahal)
Sayangnya, pengeluaran rutin ini menjadi tidak rutin apabila sekolah menambahkan biaya lain yang tidak jelas. Misalnya biaya acara pesta perpisahan untuk murid tingkat akhir. Biaya ini harusnya tidak dibebanka bagi murid kelas satu dan dua. Kalau murid kelas tiga ingin mengadakan pesta perpisahan sendiri, mereka harusnya mengumpulkan uang dari diri mereka sendiri. Contoh biaya tidak jelas lainnya adalah penggalangan dana untuk keperluan yang dibuat-dibuat, seperti, pelepasan pensiun pegawai sekolah, pembelian sarana sekolah, penggalangan dana untuk guru yang sedang berduka atau melahirkan, dan lainnya. Lah, itu anggaran sekolah dari pemerintah dikemanakan? Masak untuk acara seperti itu masih orang tua murid pula yang harus menanggungnya. Ada guru yang pensiun, orang tua murid pula yang menanggung pesangonnya. Situ enak, orang tua murid yang susah. Permasalahan ini menjadi berat kerena, terkadang, biaya sekolah yang tidak rutin ini sifatnya tidak boleh sukarela. Saya tidak keberatan dengan kegiatan penggalangan dana untuk kegiatan sosial seperti bantuan bagi korban bencana alam, teman sekolah yang berduka, pembelian kupon PMI atau acara sekolah (Pentas Seni). Kegiatan yang disebutkan tadi memang memiliki misi sosial dan tidak terkesan menguntungkan satu pihak tertentu.
Dari ketiga hal yang sudah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa menggratiskan biaya sekolah di Indonesia adalah hal yang hampir mustahil. Ini sangat diyakini karena pemerintah Indonesia tidak akan pernah punya uang untuk memberi seragam apalagi memperbaharui seragam sekolah setiap murid di Indonesia. Pemeritah juga tidak akan sanggup memberikan buku-buku gratis apabila kurikulum nasional terlalu sering berganti-ganti. Dan yang lebih mustahil adalah membuat anggaran untuk mendanai kegiatan-kegiatan sekolah yang di luar kurikulum dan di luar urusan mengajar belajar. Karena itu, setiap usaha untuk menggratiskan biaya bersekolah para murid di negara ini sebaiknya dialihkan pada pencarian cara untuk mengurangi biaya sekolah para murid-murid Indonesia. Sikap ini jauh lebih realistis dan layak untuk diperjuangkan oleh para anggota DPR, staf DikNas, dan seluruh rakyat Indonesia

Resensi Film Modus Anomali


Sedikit sekali sineas Indonesia yang memiliki kemampuan naratif baik. Era 70 – 80'an kita punyaAsrul Sani. Dan di era Youtube dan Twitter kita punya Joko Anwar
Lihat saja film-filmnya, baik saat ia menjadi sutradara/penulis atau hanya menjadi penulis saja. Setiap filmnya punya penuturan yang baik, dialog penuh punch lines dan dengan diselipkan kejutan. 
ArisanQuickie ExpressFiksi, atau Jakarta Undercover adalah film-film di mana Joko menjadi penulis. Sedang Janji Joni (2005), Kala (2007) atauPintu Terlarang (2009) adalah menjadi pembuktian bahwa di setiap filmnya Joko menetapkan standar tersendiri yang kemudian berusaha dilampauinya. 
Di tiga film terakhir yang disebut di atas, Joko terlihat memposisikan diri sebagai sineas yang gemar bermain-main dengan sebuah karakter yang diselipi berbagai sub-plot dan kemudian ia "menebar" berbagai "ranjau kejutan" yang tidak mudah ditebak. 
Joko membuktikan ia adalah seorang sineas yang gemar "memainkan" pikiran penonton dan juga menerapkan gaya cerita yang non-linear, khususnya diKala dan Pintu Terlarang. "Ranjau kejutan" yang ditebarnya terkadang menjadi petunjuk akan proyeknya yang akan datang atau sekedar menjadi penjelasan atas motivasi karakter di filmnya ketika melakukan suatu tindakan. 
Setelah 3 tahun "absen", di tahun 2012 ini, Joko lantas merilis film terbaru yang diberi judul Modus Anomali. Sebuah proyek yang gaungnya bahkan sudah bergema sejak beberapa tahun belakangan.  
Dari awal proyek Modus Anomali pun, para penggemar Joko sudah "digoda" untuk mengeluarkan ekspektasi liar. Dari teaser poster hingga ke judul filmnya yang juga merupakan "anomali" di perfilman kita. Sesuatu yang tak lazim, sesuatu yang menggugah rasa ingin tahu. 
Curiosity can kill, rasa ingin tahu akan membunuhmu bila dibiarkan terlalu liar. Dan lewat Modus AnomaliJokomembuktikan kebenaran istilah itu kepada penonton. 
Modus Anomali bercerita tentang seorang karakter pria (diperankan oleh Rio Dewanto). Dia adalah pria yang "bangkit" dari kuburnya yang terletak di sebuah hutan. Saat terjaga, sang pria tidak memiliki petunjuk apapun tentang siapa dirinya. Ia tidak tahu namanya siapa dan tidak mengetahui jati dirinya. Sama seperti penonton yang tidak punya petunjuk seperti apa film ini. 
Dia mendapati dirinya di tengah hutan yang sepi dan menemukan sebuah telepon genggam di saku celananya. Saat menghubungi nomor darurat, ia malah semakin bingung dan memutuskan menjelajah hutan. 
Di tengah pencariannya, sang pria tersebut menemukan sebuah pondok kosong dan sesosok mayat wanita hamil. Ia panik, ketakutan dan bertambah bingung. Sebuah kartu identitas yang ada di dompetnya memberi ia sedikit petunjuk bahwa ia memiliki hubungan dengan wanita di pondok itu.  
Tapi itu belumlah cukup. Lantas dengan petunjuk jam weker digital yang menunjukkan angka-angka, serta apa yang telah ia temukan, sang pria terus mencari tahu siapa ia sebenarnya. 

still photo Modus Anomali (courtesy of Lifelike Pictures)

JENIS FILM YANG MEMBUAT PENONTON TERSESAT
Modus Anomali adalah film thriller yang akan membuat Anda tersesat. Sama seperti karakter yang diperankanRio Dewanto yang tersesat mencari jati dirinya di dalam hutan. Penonton saat menyaksikan film ini juga seolah berada di tengah hutan, tanpa petunjuk, tanpa informasi, hanya berharap menemukan petunjuk yang tepat. 
Awal film saja sudah "menyesatkan". Kamera yang diarahkan oleh sinematografer Gunnar Nimpuno menyorot keindahan fauna hutan homogen itu. Sebuah keindahan yang menjadi pengalih bagi sebuah film bak kepinganpuzzle. Penonton harus menyusun setiap "kepingan puzzle" itu menjadi suatu gambaran yang utuh.  
Penonton dibuat "tersesat" dan delusional. Bagaimana tidak? Bila Anda adalah tipikal penonton yang terbiasa menyaksikan film dengan narasi linear dan Anda gemar menarik kesimpulan saat filmnya baru berjalan beberapa menit, bisa dipastikan Anda akan mudah "tersesat". Anda akan ragu dengan kesimpulan yang telah diambil, berpikir kembali dan mencoba merangkai setiap adegan yang telah berlalu.  
Terlebih bila Anda tidak akrab dengan karya Joko Anwar sebelum ini. 
Joko Anwar memainkan perasaan dan nalar penonton, seperti ketika Anda memasuki sebuah labirin yang rumit. Dan Anda harus bersabar memungut satu demi satu adegan di dalam pikiran Anda dan menyimpannya di dalam memori sebagai "bekal" untuk adegan berikut. 
Latar belakang Joko sebagai seorang kritikus film memungkinkan ia membuat jawaban atas setiap tindakan atau adegan, yang bila dilihat sepintas, tidak masuk akal. Anda akan menemukan jawabannya sendiri kemudian (atau justru membuat Anda ragu dengan jawaban Anda). 
Modus Anomali adalah tipikal film yang akan "meracuni" pikiran Anda dengan berbagai dugaan liar yang akan sulit ditemukan persamaan persepsi antara penonton satu dengan penonton lainnya. Ini adalah jenis film yang akan mengundang diskusi dan perdebatan panjang sesudahnya. 
Modus Anomali juga adalah tipikal film yang "dibenci" oleh penulis resensi. Tidak mungkin menjabarkan detail filmnya untuk mengurai kelemahan teknis. Karena bila kita akan mengurai kelemahan teknis, pasti kita akan menyebut adegan. Dan menyebut adegan dalam film Modus Anomali berpotensi memaparkan detil kunci di film ini. 
Memang layaknya keterbatasan "daya ingat" sang karakter utama, Modus Anomali juga memiliki berbagai keterbatasan. Salah satunya adalah akting Rio Dewanto
Film ini berpusat pada karakternya. Berbagai kejadian tak terduga dialami oleh sang karakter dan itu kemudian membawanya kepada paparan emosi yang luas. Diperlukan aktor dengan kemampuan menyampaikan cakupan bentang emosi yang luas dalam film klaustrofobia ini dan itu belum mampu ditampilkan Rio Dewanto secara maksimal. 
Ada beberapa adegan di mana akting Rio justru menjadi petunjuk jelas tentang jati dirinya kepada penonton (apalagi bila mereka akrab dengan film-film Joko Anwar). Bahwa penonton tidak percaya akan dirinya. Namun, sekali lagi Joko Anwar punya alasan yang kuat mengapa ia memakai Rio Dewanto dalam film ini. Bila Anda menyaksikan filmnya terdahulu, kemungkinan Anda akan mengerti. 
Kelemahan selanjutnya adalah penggunaan bahasa Inggris yang terkesan kaku dan tidak nyaman didengar. Film ini sengaja menggunakan dialog berbahasa Inggris, untuk menjelaskan beberapa detil yang tidak akan akrab dengan kultur Indonesia. Beberapa pemain memang fasih melafazkannya, misalnya Hannah Al Rashid
Penggunaan bahasa Inggris jugalah yang mungkin menjadi batasan Rio dalam menyampaikan emosi. Rio adalah aktor berbakat yang dimiliki Indonesia. Namun, memang harus diakui cara ia bermain di film ini belumlah maksimal.  

Related News