Minggu, 06 Mei 2012

Biaya Kuliah di PTN Yang Semakin Mahal



BANDUNG, RIMANEWS-Pendidikan merupakan hak semua masyarakat, tapi kenyataan untuk bisa sekolah di jenjang perguruan tinggi termasuk di perguruan tinggi negeri (PTN) semakin hari semakin mahal.
Contoh kasus, untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), seorang mahasiswa harus merogoh kocek hingga Rp100 juta agar bisa lulus, atau sekitar Rp25 juta per tahun.
Uang sebesar itu dihabiskan mulai dari proses pendaftaran mahasiswa baru hingga diwisuda. "Normalnya, per mahasiswa membutuhkan Rp100 juta per empat tahun atau sejak masuk hingga lulus," ujar Wakil Rektor ITB Bidang Komunikasi Kemitraan dan Alumni Hasanudin Z Abiddin kepada wartawan di Gedung Rektorat ITB, Jalan Tamansari, Kamis (13/1/2011).
Tingginya biaya kuliah tersebut tentunya sangat memberatkan masyarakat di tengah melambungnya biaya hidup, mulai dari kenaikan harga bahan kebutuhan pokok, naiknya tarif dasar listrik hingga terus melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM).
Dengan kondisi tersebut, pendidikan murah, khususnya jenjang pendidikan tinggi, yang dijanjikan pemerintah melalui kebijakan 20% alokasi anggaran pendidikan dalam APBN dan APBD ini, dipastikan tidak akan dirasakan
masyarakat.
Namun di sisi lain, penyelenggaran pendidikan murah juga menuai dilema bagi pengelola universitas negeri. Pasalnya, dengan status Badan Hukum Milik Negera (BHMN), universitas tidak lagi mendapat pasokan subsidi yang memadai dari pemerintah. Universitas negeri dituntut mencarisendiri sumber keuangannya.
Pada tahun-tahun sebelumnya, untuk mengatasi keterbatasan dana yang dimiliki, universitas mempunyai cara ampuh yakni membuka lebar penerimaan mahasiswa baru melalui jalur khusus di luar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Tinggi (SNMPTN).
Para mahasiswa jalur khusus tersebut dikenakan biaya kuliah jauh lebih besar dibandingkan mahasiswa jalur reguler yang melalui SNMPTN. Mereka bisa dikenakan dana sumbangan pembangunan mulai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah tergantung kemampuan masing-masing. Dana yang diperoleh dari mahasiswa 'kaya' tersebut digunakan untuk mensubsidi mahasiswa 'miskin.
Namun mulai tahun ajaran 2011 ini cara tersebut tidak bisa lagi dengan leluasa dilakukan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 34/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, PTN hanya dibolehkan menjaring mahasiswa baru melalui jalur khusus sebesar 40% sisanya harus lewat SNMPTN yang digelar secara nasional.
PTN pun dibebankan kewajiban untuk mengakomodasi mahasiswa kurang mampuuntuk tetap bisa kuliah. Seusai Peraturan Pemerintah No 66/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, PTN wajib menampung 20% mahasiswa dari kalangan miskin dari total mahasiswa baru
yang diterimanya tiap tahun.
Hasanudin mengakui, hal tersebut cukup berat. Dengan asumsi jumlah mahasiswa baru sebanyak 3.300, untuk tahun ini ITB harus menanggung beban biaya kuliah sekitar 600 mahasiswa. "Dengan asumsi itu, ITB harus mencari mencari setidaknya Rp60 miliar untuk menanggung mahasiswa miskin," tandas Hasanudin.
ITB menghapuskan jalur khusus ini karena tidak mau disebut menjual kursi sebagai sumber pendapatan kampus. Karena itu, selain mengandalkan pendapatan dari mahasiswa reguler, ITB juga berupaya mencari sumber lain untuk membiayai mahasiswa 'miskin' tersebut.
Seperti dari program coorporate social responsibility (CSR), dana ikatan alumni (IA), kerja sama industri, kerja sama pemerintah daerah (pemda), serta kerja sama penelitian.
Hasan menegaskan, ITB terus berupaya mencari pendanaan untuk kelangsungan proses perkuliahan mahasiswa dan biaya operasional kampus. "Dana itu tanggung jawab kami, yang penting, siswa pintar tapi tidak punya uang dan ingin masuk ITB, daftar saja dulu, jangan takut," tukasnya.
Komitmen menanggung biaya mahasiswa 'miskin' juga ditunjukkan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Rektor Unpad Bandung Ganjar Kurnia menegaskan, tahun ini akan menerima sekitar 500 mahasiswa baru dari jalur bidik misi yang merupakan program beasiswa pemerintah untuk mahasiswa tidak mampu.
"Kita khususkan program pemerintah kepada mahasiswa tidak mampu," ujar Rektor Unpad Ganjar Kurnia saat dihubungi wartawan, Kamis (13/1/2011). Unpad pun tetap membuka ujian jalur khusus sebanyak 40% yang dananya digunakan untuk menyubsidi mahasiswa 'miskin'.
Komitmen kedua PTN ternama di Bandung ini tentunya menjadi kabar gembira bagi para orang tua yang akan menyekolahkan putra-putrinya ke perguruan tinggi. Mudah-mudahan langkah ini diikuti pula PTN-PTN lain.
Di pihak lain, pemerintah pun bisa memenuhi janji untuk meningkatkan pendidikan anak bangsa. Sehingga cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa yang diamanatkan UUD bisa secepatnya terwujud.(Ins)

Sebab Biaya Sekolah Yang Semakin Mahal

Pendidikan mahal! Koreksi, yang betul adalah biaya sekolah mahal. Pendidikan tidak pernah mahal karena pendidikan berarti usaha penanaman nilai-nilai kehidupan. Ini adalah porsinya orang tua, bukan sekolah. Biaya sekolah mahal! Nah, ini baru pas. Sudah banyak yang menulis mengenai mahalnya biaya sekolah di Indonesia dan penyebabnya. Secara umum, pemerintah dipersalahkan karena kurang memberikan anggaran lebih banyak kepada Departemen DikNas. Tulisan ini mencoba menelaah besarnya biaya sekolah di Indonesia lewat komponen-komponen penyebab mahalnya biaya sekolah itu sendiri. Besarnya biaya belajar para siswa di Indonesia disebabkan oleh tiga hal.
Seragam sekolah adalah penyebab pertama mahalnya biaya bersekolah para siwa di Indonesia. Aneh, kok seragam sekolah? Tentu saja. Tidak ada anak Indonesia yang mau bersekolah jika mereka tidak memilik seragam. Bahkan mereka yang bisa bersekolah tanpa seragam pun justru merasa belum menjadi murid sungguhan karena belum punya seragam sekolah. Tanpa disadari, komponen kecil yang satu ini menjadi momok tersendiri bagi para orang tua murid dan murid sekolah di Indonesia. Tak perlu susah memikirkannya seperti apa. Saat anak masuk sekolah pertama kali, kelas satu SD, mereka sudah wajib memiliki seragam. Sekaya apapun anak tersebut, dia tidak boleh menjadi murid di suatu sekolah apabila ia belum memilik seragam. Kalau anak orang kaya saja tidak boleh bersekolah tanpa seragam apalagi orang miskin. Tidak sampai di situ saja, membeli seragam sekolah pun tidak bisa cuma sekali. Seiring dengan perkembangan fisik anak, orang tua setiap tahun harus memperbaharui baju sekolah anak mereka. Makin cepat perkembangan fisik seorang anak, makin sering pula orang tua harus membeli seragam baru bagi anaknya. Kalau anaknya cuma satu masih enak. Bagaimana yang anakya lebih dari satu? Punya dua pasang anak kembar? Belum sampai di situ, seragam siswa SD, SMP, dan SMA memiliki perbedaan. Baju seragam putih tapi celananya merah (SD), biru (SMP), dan abu-abu (SMA). Dan yang membuat lebih repot lagi adalah kecenderungan setiap sekolah untuk mengharuskan siswanya memakai seragam khusus, batik, pada hari tertentu. Seolah belum cukup membebani orang tua siswa dengan membeli seragam harian, misalnya putih abu-abu (SMA), orang tua harus mengeluarkan anggaran lagi untuk membeli seragam batik. Entah siapa pula yang mengeluarkan gagasan ini kepada sekolah-sekolah di negara ini. Padahal dulu, murid sekolah, SMP dan SMA, hanya memekai seragam harian saja tanpa ada keharusan memakai baju batik pada hari khusus. Dengan cara ini, pemerintah dan sekolah telah sukses melakukan konspirasi dalam membuat biaya bersekolah menjadi lebih mahal dibandingkan dua dekade yang lalu. Kalau argumentasi ini masih diragukan, bagi anda yang sudah memiliki anak, mulailah berhitung tentang uang yang sudah dihabiskan untuk biaya seragam anak anda sendiri mulai dari SD hingga SMA. Cari lagi bon-bon pembelian seragam sekolah itu dan jangan lupa untuk menyesuaikan uang yang telah dikeluarkan dulu dengan tingkat inflasi sekarang.
Beban biaya sekolah juga disebabkan oleh komponen buku pelajaran. Dari dulu sampai sekarang, orang tua murid harus menyediakan sendiri buku pelajaran sekolah bagi anak-anak mereka. Buku apa yang digunakan oleh murid sekolah tergantung dari persetujuan bisnis antara pihak sekolah dan penerbit buku. Seandainya orang tua murid harus membeli buku dari penerbit A dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar, maka ini bukan perkara besar. Sayangnya, pengandaian itu selamanya terjadi dalam kenyataan. Tidak jarang harga buku yang dijual di sekolah lebih tinggi daripada harga pasar, harga toko buku. Ini bisa terjadi karena, satu, adanya oknum sekolah yang ingin meraup keuntungan sendiri dan karena penerbit buku harus membayar komisi besar kepada sekolah sehingga mereka membebankan biaya komisi itu pada orang tua murid. Dalam situasi ini, orang tua murid yang kritis bisa saja menolak membeli buku dari sekolah dan mencari sendiri di toko buku yang ada di sekitarnya, yang tentunya tidak bisa dilarang oleh pihak sekolah. Namun yang terjadi pada anak orang tua murid itu bisa ditebak. Anak itu akan disindir dan dicela oleh oleh pihak sekolah--guru, staf sekolah atau, bahkan, kepala sekolahnya sendiri. Yang dilakukan oleh pihak sekolah jelas salah sedangkan yang dilakukan oleh orang tua murid adalah benar. Dan yang menjadi korban adalah si murid itu sendiri. Dia menderita dan bisa mengalami depresi. Tidak membeli buku dari sekolah tiba-tiba menjadi sebuah dosa atau aib bagi diri murid itu. Pengadaan buku secara gratis dengan sistem online oleh DikNas, seperti yang dilakukan tahun lalu, ternyata belum bisa menyelesaikan persoalan mahalnya pengadaan buku. Belum tersediannya fasilitas internet yang menjangkau masyarakat di daerah pedesaan atau terpencil menjadi kendala bagi para murid dan orang tuanya. Pun, seandainya mereka memiliki akses ke internet, biaya pencetakan buku menjadi kendala lainnya. Untuk membuat masalah menjadi lebih rumit, DikNas memilik hobi untuk mengganti-ganti kurikulum nasional sesuka hatinya. Penggantian kurikulum jelas akan berimbas pada buku pelajaran para murid. Sewaktu bersekolah dulu, buku pelajaran saya masih bisa dipakai oleh adik saya, yang duduk dua kelas di bawah saya, karena kurikulum nasional tidak mengalami perubahan yang berarti, dari tahun 1984 loh.
Biaya-biaya tambahan saat bersekolah menjadi penyebab ketiga dari mahalnya bersekolah di Indonesia. Biasanya, pengeluaran rutin orang tua murid untuk biaya sekolah anaknya adalah:
    1.    Iuran sekolah (bulanan, puji syukur kalau tidak pernah naik)
    2.    Seragam (tahunan, syukur kalau badan anaknya tidak melebar ke samping)
    3.    Buku pelajaran (tahunan, Berat memang kalau anak terus naik kelas tapi siapa yang mau anaknya tidak pernah naik kelas)
    4.    Biaya Study Tour (biasanya cuma sekali, buat SMP dan SMA, dan ini juga tergantung tempat tujuan kunjungannya, makin jauh makin mahal)
Sayangnya, pengeluaran rutin ini menjadi tidak rutin apabila sekolah menambahkan biaya lain yang tidak jelas. Misalnya biaya acara pesta perpisahan untuk murid tingkat akhir. Biaya ini harusnya tidak dibebanka bagi murid kelas satu dan dua. Kalau murid kelas tiga ingin mengadakan pesta perpisahan sendiri, mereka harusnya mengumpulkan uang dari diri mereka sendiri. Contoh biaya tidak jelas lainnya adalah penggalangan dana untuk keperluan yang dibuat-dibuat, seperti, pelepasan pensiun pegawai sekolah, pembelian sarana sekolah, penggalangan dana untuk guru yang sedang berduka atau melahirkan, dan lainnya. Lah, itu anggaran sekolah dari pemerintah dikemanakan? Masak untuk acara seperti itu masih orang tua murid pula yang harus menanggungnya. Ada guru yang pensiun, orang tua murid pula yang menanggung pesangonnya. Situ enak, orang tua murid yang susah. Permasalahan ini menjadi berat kerena, terkadang, biaya sekolah yang tidak rutin ini sifatnya tidak boleh sukarela. Saya tidak keberatan dengan kegiatan penggalangan dana untuk kegiatan sosial seperti bantuan bagi korban bencana alam, teman sekolah yang berduka, pembelian kupon PMI atau acara sekolah (Pentas Seni). Kegiatan yang disebutkan tadi memang memiliki misi sosial dan tidak terkesan menguntungkan satu pihak tertentu.
Dari ketiga hal yang sudah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa menggratiskan biaya sekolah di Indonesia adalah hal yang hampir mustahil. Ini sangat diyakini karena pemerintah Indonesia tidak akan pernah punya uang untuk memberi seragam apalagi memperbaharui seragam sekolah setiap murid di Indonesia. Pemeritah juga tidak akan sanggup memberikan buku-buku gratis apabila kurikulum nasional terlalu sering berganti-ganti. Dan yang lebih mustahil adalah membuat anggaran untuk mendanai kegiatan-kegiatan sekolah yang di luar kurikulum dan di luar urusan mengajar belajar. Karena itu, setiap usaha untuk menggratiskan biaya bersekolah para murid di negara ini sebaiknya dialihkan pada pencarian cara untuk mengurangi biaya sekolah para murid-murid Indonesia. Sikap ini jauh lebih realistis dan layak untuk diperjuangkan oleh para anggota DPR, staf DikNas, dan seluruh rakyat Indonesia

Resensi Film Modus Anomali


Sedikit sekali sineas Indonesia yang memiliki kemampuan naratif baik. Era 70 – 80'an kita punyaAsrul Sani. Dan di era Youtube dan Twitter kita punya Joko Anwar
Lihat saja film-filmnya, baik saat ia menjadi sutradara/penulis atau hanya menjadi penulis saja. Setiap filmnya punya penuturan yang baik, dialog penuh punch lines dan dengan diselipkan kejutan. 
ArisanQuickie ExpressFiksi, atau Jakarta Undercover adalah film-film di mana Joko menjadi penulis. Sedang Janji Joni (2005), Kala (2007) atauPintu Terlarang (2009) adalah menjadi pembuktian bahwa di setiap filmnya Joko menetapkan standar tersendiri yang kemudian berusaha dilampauinya. 
Di tiga film terakhir yang disebut di atas, Joko terlihat memposisikan diri sebagai sineas yang gemar bermain-main dengan sebuah karakter yang diselipi berbagai sub-plot dan kemudian ia "menebar" berbagai "ranjau kejutan" yang tidak mudah ditebak. 
Joko membuktikan ia adalah seorang sineas yang gemar "memainkan" pikiran penonton dan juga menerapkan gaya cerita yang non-linear, khususnya diKala dan Pintu Terlarang. "Ranjau kejutan" yang ditebarnya terkadang menjadi petunjuk akan proyeknya yang akan datang atau sekedar menjadi penjelasan atas motivasi karakter di filmnya ketika melakukan suatu tindakan. 
Setelah 3 tahun "absen", di tahun 2012 ini, Joko lantas merilis film terbaru yang diberi judul Modus Anomali. Sebuah proyek yang gaungnya bahkan sudah bergema sejak beberapa tahun belakangan.  
Dari awal proyek Modus Anomali pun, para penggemar Joko sudah "digoda" untuk mengeluarkan ekspektasi liar. Dari teaser poster hingga ke judul filmnya yang juga merupakan "anomali" di perfilman kita. Sesuatu yang tak lazim, sesuatu yang menggugah rasa ingin tahu. 
Curiosity can kill, rasa ingin tahu akan membunuhmu bila dibiarkan terlalu liar. Dan lewat Modus AnomaliJokomembuktikan kebenaran istilah itu kepada penonton. 
Modus Anomali bercerita tentang seorang karakter pria (diperankan oleh Rio Dewanto). Dia adalah pria yang "bangkit" dari kuburnya yang terletak di sebuah hutan. Saat terjaga, sang pria tidak memiliki petunjuk apapun tentang siapa dirinya. Ia tidak tahu namanya siapa dan tidak mengetahui jati dirinya. Sama seperti penonton yang tidak punya petunjuk seperti apa film ini. 
Dia mendapati dirinya di tengah hutan yang sepi dan menemukan sebuah telepon genggam di saku celananya. Saat menghubungi nomor darurat, ia malah semakin bingung dan memutuskan menjelajah hutan. 
Di tengah pencariannya, sang pria tersebut menemukan sebuah pondok kosong dan sesosok mayat wanita hamil. Ia panik, ketakutan dan bertambah bingung. Sebuah kartu identitas yang ada di dompetnya memberi ia sedikit petunjuk bahwa ia memiliki hubungan dengan wanita di pondok itu.  
Tapi itu belumlah cukup. Lantas dengan petunjuk jam weker digital yang menunjukkan angka-angka, serta apa yang telah ia temukan, sang pria terus mencari tahu siapa ia sebenarnya. 

still photo Modus Anomali (courtesy of Lifelike Pictures)

JENIS FILM YANG MEMBUAT PENONTON TERSESAT
Modus Anomali adalah film thriller yang akan membuat Anda tersesat. Sama seperti karakter yang diperankanRio Dewanto yang tersesat mencari jati dirinya di dalam hutan. Penonton saat menyaksikan film ini juga seolah berada di tengah hutan, tanpa petunjuk, tanpa informasi, hanya berharap menemukan petunjuk yang tepat. 
Awal film saja sudah "menyesatkan". Kamera yang diarahkan oleh sinematografer Gunnar Nimpuno menyorot keindahan fauna hutan homogen itu. Sebuah keindahan yang menjadi pengalih bagi sebuah film bak kepinganpuzzle. Penonton harus menyusun setiap "kepingan puzzle" itu menjadi suatu gambaran yang utuh.  
Penonton dibuat "tersesat" dan delusional. Bagaimana tidak? Bila Anda adalah tipikal penonton yang terbiasa menyaksikan film dengan narasi linear dan Anda gemar menarik kesimpulan saat filmnya baru berjalan beberapa menit, bisa dipastikan Anda akan mudah "tersesat". Anda akan ragu dengan kesimpulan yang telah diambil, berpikir kembali dan mencoba merangkai setiap adegan yang telah berlalu.  
Terlebih bila Anda tidak akrab dengan karya Joko Anwar sebelum ini. 
Joko Anwar memainkan perasaan dan nalar penonton, seperti ketika Anda memasuki sebuah labirin yang rumit. Dan Anda harus bersabar memungut satu demi satu adegan di dalam pikiran Anda dan menyimpannya di dalam memori sebagai "bekal" untuk adegan berikut. 
Latar belakang Joko sebagai seorang kritikus film memungkinkan ia membuat jawaban atas setiap tindakan atau adegan, yang bila dilihat sepintas, tidak masuk akal. Anda akan menemukan jawabannya sendiri kemudian (atau justru membuat Anda ragu dengan jawaban Anda). 
Modus Anomali adalah tipikal film yang akan "meracuni" pikiran Anda dengan berbagai dugaan liar yang akan sulit ditemukan persamaan persepsi antara penonton satu dengan penonton lainnya. Ini adalah jenis film yang akan mengundang diskusi dan perdebatan panjang sesudahnya. 
Modus Anomali juga adalah tipikal film yang "dibenci" oleh penulis resensi. Tidak mungkin menjabarkan detail filmnya untuk mengurai kelemahan teknis. Karena bila kita akan mengurai kelemahan teknis, pasti kita akan menyebut adegan. Dan menyebut adegan dalam film Modus Anomali berpotensi memaparkan detil kunci di film ini. 
Memang layaknya keterbatasan "daya ingat" sang karakter utama, Modus Anomali juga memiliki berbagai keterbatasan. Salah satunya adalah akting Rio Dewanto
Film ini berpusat pada karakternya. Berbagai kejadian tak terduga dialami oleh sang karakter dan itu kemudian membawanya kepada paparan emosi yang luas. Diperlukan aktor dengan kemampuan menyampaikan cakupan bentang emosi yang luas dalam film klaustrofobia ini dan itu belum mampu ditampilkan Rio Dewanto secara maksimal. 
Ada beberapa adegan di mana akting Rio justru menjadi petunjuk jelas tentang jati dirinya kepada penonton (apalagi bila mereka akrab dengan film-film Joko Anwar). Bahwa penonton tidak percaya akan dirinya. Namun, sekali lagi Joko Anwar punya alasan yang kuat mengapa ia memakai Rio Dewanto dalam film ini. Bila Anda menyaksikan filmnya terdahulu, kemungkinan Anda akan mengerti. 
Kelemahan selanjutnya adalah penggunaan bahasa Inggris yang terkesan kaku dan tidak nyaman didengar. Film ini sengaja menggunakan dialog berbahasa Inggris, untuk menjelaskan beberapa detil yang tidak akan akrab dengan kultur Indonesia. Beberapa pemain memang fasih melafazkannya, misalnya Hannah Al Rashid
Penggunaan bahasa Inggris jugalah yang mungkin menjadi batasan Rio dalam menyampaikan emosi. Rio adalah aktor berbakat yang dimiliki Indonesia. Namun, memang harus diakui cara ia bermain di film ini belumlah maksimal.  

Related News




Kamis, 26 April 2012

Aksi Kebrutalan Geng Motor




REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menilai anarkisme yang dilakukan anggota geng motor karena krisis keteladanan. "Aksi anarkis itu dilakukan oleh anak muda karena tidak punya figur keteladanan ditambah penegakan hukum yang lemah," kata Syafi'i seusai acara bincang-bincang "Merah-Putih".
Ia menganalogikan anggota geng motor sebagai anak-anak yang kurang perhatian dan tidak punya keteladanan yang bisa dijadikan contoh. "Generasi muda saat ini kehilangan 'role model' (suri teladan)," katanya.
Hilangnya suri teladan itu, menurut Syafii, berlaku surut dari puncak pimpinan pemerintahan (DPR dan Presiden) hingga di level rumah tangga, yakni orang tua. "Pemimpin kita sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, terlibat kasus korupsi, skandal ini dan itu. Apa yang bisa dicontoh?" katanya.
Ia juga berpendapat bahwa penegakan hukum yang lemah membuat orang tidak takut untuk berbuat anarkis.
Sementara itu, ia menambahkan, orang yang sudah terlanjur berbuat anarkis menjadi tidak takut untuk mengulanginya lagi. "Seharusnya, penanganan kasus kekerasan yang dilakukan oleh geng motor ini harus segera diusut dan pelakunya dihukum. Jangan dibiarkan berlarut-larut," katanya.
Syafii juga mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia yang terlalu mengutamakan aspek kognitif akademik siswa. "Ini menjadikan generasi muda kita pintar otaknya saja, tapi hatinya tidak," ujarnya.
Menurut pendiri Maarif Institute itu, aspek moralitas juga diperlukan dalam sistem pendidikan di Indonesia sebagai bekal hidup generasi muda di masyarakat. "Apa jadinya kalau mereka tumbuh besar tanpa hati nurani? Kekerasan, anarkisme, seperti yang dilakukan geng motor ini," katanya.

sumber : http://www.republika.co.id

Rabu, 07 Maret 2012

DEFINISI HARDSKILL



        Pada pembahasan sebelumnya saya telah menjelaskan “Apa itu SoftSkill ?. Dalam kehidupan yang kita jalani ini kita perlu yang namanya kemampuan. Karena kemampuan dapat membuat kita  lebih dari percaya diri lagi dalam menjalani hidup kita. Dengan kemampuan justru akan membuat kehidupan kita jauh lebih berharga dan bermanfaat lagi. Kemampuan bisa dikategorikan ada dua jenis softskill dan hardskill :
           Pada kesempatan ini Saya akan membahas tentang definisi hardskill.
hardskill adalah suatu kemampuan seseorang dalam ilmu pengetahuan / akademik yang kita dipelajari di sekolah dasar samapai kita mejadi sarjana. Mungkin dengan adanya hardskill kita lebih dapat mengetahui adanya wawasan-wawasan yang ada untuk ilmu pengetahuan kita.
         Hard skills juga berhubungan dengan kompetensi inti untuk setiap bidang keilmuan lulusan.
          Sebagai contoh, seseorang lulusan teknik informatika tentunya harus menguasai hard skill di bidang rekayasa perangkat lunak, web programming, dll yang tergolong hard skills di teknik informatika. Demikian juga seorang lulusan Akuntansi, misalnya harus menguasai analisis laporan keuangan, penyusunan anggaran, dll. Pada program retooling ternyata masih ada materi pelatihan ke arah hard skills tersebut. Hmmm jadi semacam pengulangan kuliah atau refreshing saja dong :). Pihak yang berwenang pun berkilah bahwa tidak semua perguruan tinggi berhasil mengajarkan hard skills tersebut, malah katanya hanya sekedar mata kuliah yang tercantum di Transkrip.
.Contoh hard skill meliputi:

     fasilitas dengan spreadsheet
     mengetik
     kemampuan dengan aplikasi perangkat lunak
     mengoperasikan mesin
     pengembangan perangkat lunak
     berbicara dengan bahasa asing
     hitungan

Apakah Soft Skill itu ?

Apabila anda cukup pandai, adalah mudah untuk mempelajari kemampuan tehnis (technical skills)
untuk berhasil dalam pekerjaan. Tetapi bila anda berkeinginan untuk memanjat anak tangga karier
perusahaan, anda membutuhkan kemampuan lain, yakni SOFT SKILLS. Sayangnya sering kita melihat
orang di promosikan pada posisi leadership tanpa memiliki kemampuan soft skills untuk dapat
berhasil.
Marilah kita membahas konsep SOFT SKILLS. Kita akan membahas definisi dari istilah tersebut dan
mencoba menemukan beberapa contoh.Kita juga akan membahas perbedaan SOFT SKILLS dan HARD
SKILLS.
Soft Skills ditempat kerja
Kepiawaian tehnis selalu di hargai dan dinilai tinggi. Meningkatnya kita dalam anak tangga karier
berarti lebih daripada pengakuan sebagai Subject Matter Expert, atau SME. Yang membedakan
antara seorang Manajer dan seorang business leaders adalah penguasaan atas Soft skills. Apabila
hard skills dapat dipelajari dan disempurnakan dengan berjalannya waktu, soft skills lebih sulit untuk
dikuasai dan diubah.
Definisi Soft Skills
Dalam English Dictionary, Soft-skill diberikan definisi sebagai berikut:
Soft skills are interpersonal skills such as the ability to communicate well with other people and to
work in a team. n-plural (Antonym: hard skills)
Soft skills sebenarnya merupakan kumpulan kemampuan bisnis yang dapat dimasukkan dalam salah
satu dari 3 kategori sbb.:
· Interaksi dengan bawahan
· Professionalisme dan / atau Etika Kerja
· Berpikir Kritis atau ber-orientasi pada Problem Solving
Setiap kategori diatas dapat diterapkan hamper pada semua posisi dalam perusahaan apapun juga.
Karena itulah banyak institusi pendidikan manajemen, seperti Harvard Business School, Whartons,
dll mulai menganjurkan pesertanya kesempatan untuk mengembangkan soft skills sebagai bagian
dari kurikulum nya.
Dalam penterapan, ketiga kategori diatas dapat dikembangkan kembali dalam berbagai sub-kategori,
sebagai berikut:
Interaksi dengan Bawahan
Termasuk dalam kategori ini adalah ber-interaksi secara efektif dengan bawahan dan pelanggan.
Contoh dari kategori soft skills ini adalah:
· Networking - dalam arti membangun hubungan yang kuat atau persekutuan dengan yang
lain. Networking sangat penting untuk membangun hubungan dalam organisasi – jika kita
tidak mengetahui akan sesuatu , sangat penting untuk mengetahui siapa yang dapat
membantu.
· Komunikasi – berbagi informasi secara efektif dengan yang lain –termasuk secara verbal,
tulisan dan bahkan komunikasi non-verbal lainnya.
· Teamwork / Kolaborasi –kemampuan untuk bekerja dengan berhasil dalam suatu
kelompok, termasuk menerima peran sebagai pemain dalam – yakni seseorang yang dapat
meletakkan sasaran kelompok diatas sasaran pribadi.
· Menunjukkan Empati – kemampuan untuk berbagi perasaan dengan yang, termasuk
mengerti perasaan orang lain.
Profesionalisme dan / atau Etika Bekerja
Kategori kedua dari soft skills terpusat pada bagaimana seseorang bersikap dalam
pekerjaan. Contoh dari kategori ini termasuk:
· Profesionalisme – termasuk berpakaian secara baik ketempat kerja, tidak pernah terlambat,
berbicara secara santun kepada bawahan, pelanggan dan teman2 sekerja.
· Integritas – bersikap terus terang dan jujur, kemampuan ini sejalan dengan nilai2
Perusahaan dimana ia bekerja.
· Rasa penuh Keyakinan (Optimisme) – kemampuan untuk meng-antisipasi menghadapi
kemungkinan terburuk dan memberikan umpan balik positif bagi mereka yang sedang
menghadapi persoalan.
· Enthusiasme / Motivasi – kemampuan untuk tetap tekun dan mendukung, suatu pemikiran,
sasaran perusahaan ataupun tugas2. Untuk tetap commited dalam mencapai tujuan
bersama.
Pikiran kritis atau Problem Solving
Kategori terakhir dari soft skills berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk berpikir kritis
dan mengatasi persoalan ditempat kerja. Kemampuan membaca dan mempergunakan data untuk
mengatasi persoalan ditempat kerja merupakan bakat (talenta) yang sangat dinilai tinggi dalam
setiap tatanan bisnis.
Salah satu kunci untuk dapat menjadi Problem Solver yang efektif adalah kemampuan
mengembangkan suatu solusi bagi persoalan dalam tenggang waktu yang relative pendek. Juga
penting untuk mampu memberikan penjelasan bagaimana solusi yang dikemukakan akan dapat
menyelesaikan persoalan secara logis dan sistimatis.
Soft Skills versus Hard Skills
Mungkin cara paling sederhana untuk membedakan antara soft skills dan hard skills dapat
digambarkan dengan cara sebagai berikut:
· Hard skills adalah yang mudah untuk dilihat dan di-kualifikasikan melalui test2 ilmiah. Juga
akan lebih mudah mengajarkan seseorang hard skills secara formal dalam ruang pendidikan
atau mempergunakan situasi pelatihan on-the-job. Hard skills termasuk kemampuan seperti
menjalankan mesin, mengerjakan spreadsheets, berbicara bahasa asing, atau mempergunakan personal computer.
· Soft skills sering pula disebut sebagai kemampuan mengelola manusia. Jadi berbeda dengan
hard skills, Soft skills tidak mudah untuk di kualifikasi-kan, sehingga sering digolongkan
sebagai intangible. Karena itu tidak jarang kita melihat seorang bawahan lebih memiliki soft
skill yang kuat – karena merupakan kemampuan alamiah mereka untuk berbaurrr dan
membangun kerjasama yang efektif dengan rekan kerjanya, ketimbang atasan nya.
Karena itu wajar bila perusahaan akan lebih menghargai seorang karyawan dengan kemampuan soft
skills yang tinggi, disamping penguasaan tehnis yang dicari. Karyawan akan meningkat keatas jenjang
karier atau tergeser sangat tergantung pada kemampuan soft skills nya, yang membedakan mereka
dari kelompoknya.

sumber : jdcteam.com/pipermail/forum_jdcteam.com/.../attachment.pdf

MOBIL ESEMKA: Gagal uji emisi, ditantang uji SNI

            Perjalanan mobil Mobil Esemska, agaknya kian panjang dan berliku, setelah dinyatakan gagal dalam uji emisi. Seperti diketahui, Senin   27 Februari pekan lalu, mobil kebanggan para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) itu menjalani dua uji emisi di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi BPPT (Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi) di Serpong, Tangerang Selatan, Banten.
            Apa mau dikata prototipe mobil Esemka Rajawali berpelat nomor merah AD 1 A tunggangan Wilikota Solo Joko Widodo itu tak lolos kedua tes tersebut, yaitu emisi CO (karbon monoksida) dan  HC+NOX (hidrokarbon+natrium oksida.
            Dalam uji emisi CO, mobil Esemka Rajawali gagal menembus ambang batas uji 5 gram/km, karena knalpot mobil Esemka Walikota Solo itu mengeluarkan emisi CO 11,63 gram/km atau lebih dari dari kali lipat ambat batas CO.

            Sementara itu dalam uji emisi HC+NOX, hasilnya malah lebih parah. Esemka Rajawali gagal menembus ambang batas 0,70 gram/km, karena emisinya 2,69 gram/km atau hampir empat kali lipat dari ambang batas.Protitipe mobil Esemka Rajawali milik Walikota Solo tersebut merupakan buah karya siswa-siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Surakarta di bawah pengarahan PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) selaku pengelola merek.

            Para pemangku kepentingan mobil Esemka Rajawali tak patah semangat. Situs Solopos.com melaporkan Senin 5 Maret pekan depan, PT SMK berniat membongkar total mesin mobil Esemka Rajawali untuk melakukan perbaikan agar lolos uji emisi lagi.

Uji SNI menanti

            Kalau toh akhirnya mobil Esemka Rajawali itu kemudian lolos uji emisi, bukan berarti ujian berat bagi mobil buah karya siswa SMK Negeri 2 Surakarta itu berakhir. Apalagi para pemangku kepentingan mobil Esemka Rajawali itu bertekad memproduksi mobil itu dalam skala manufaktur.

            Ini sebuah langkah berani karena mobil Esemka memasuki tahap komersial secara massal. Sebagai produk buah karya anak bangsa, tekad ini layak mendapat dukungan total. Hal itu karena dari sisi proses produksi, Esemka harus melampaui ujian yang tidak kalah beratnya, yaitu memenuhi spesifikasi yang diatur dalam SNI (Standar Nasional Indonesia).

            Lolos SNI hukumnya wajib, karena semua produk mobil yang dijual secara komersial harus memenuhi ketentuan SNI. Apalagi proyek mobil Esemka telah menyiapkan 4 varian mobil, yaitu Rajawali, Digdaya, Zhangaro, dan model hatchback yang saat ini belum memiliki nama.

            Penelusuran Bisnis di database SNI dalam  situs Badan Standardisasi Nasional (BSN) di bsn.go.id, menunjukkan ketentuan SNI untuk mobil penumpang diatur dalam 8 ICS (International Classification of Standards), yaitu (1) Peralatan listrik dan elektronika; (2) Perangkat penerangan, pemberi tanda dan peringatan; (3) Perangkat penunjuk dan pengendali; (4) Sistem rem; (5)Transmisi, suspensi; (6) Badan dan komponen badan; (7) Sistem pelapisan dan penyekaan; dan (8) Kopling.

            Jika ditotal, 8 kelompok ICS untuk produk mobil itu memiliki 133 item SNI. Jadi bisa kita bayangkan, alangkah beratnya jalan yang harus ditempuh oleh Mobil Esemka tersebut. Memenuhi  seluruh ketentuan SNI untuk 133 item komponen bukanlah pekerjaan mudah dan akan memakan waktu lama.

            Apakah kemudian perlu ada semacam dispensasi bagi mobil Esemka? Secara hukum, ini jelas keliru, karena pemerintah menerapkan standar ganda dengan membebaskan Esemka dari SNI sementara pabrikan mobil lainnya wajib menaati SNI.

            Kalau toh aspek hukum tersebut dikesampingkan, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah relakah kita sebagai konsumen membeli mobil yang belum layak secara SNI. Ini bukan menyangkut aspek kebanggan atau nasionalisme, tetapi semata-mata persoalan teknis terkait dengan keselamatan pengguna mobil.Nah, jalan tengah yang perlu dilakukan pemerintah adalah memberikan bimbingan teknis kepada pembuat mobil Esemka agar proses produksi atau perakitan mobil kebanggan anak-anak SMK itu didukung dengan komponen mobil yang memenuhi SNI.

            Maklum, beberapa sekolah perakit mobil Esemka mengatakan dengan bangga bahwa 80%-90% komponen mobil hasil produksi mereka sendiri. Kalau benar demikian, ini jelas sangat membanggakan, tetapi sekaligus menjadi tantangan baru bagi para pemangku kepentingan mobil Esemka. Mereka harus membuktikan bahwa komponen tesebut memenuhi ketentuan SNI.

            Sehingga pada akhirnya, konsumen atau pasar pun akan bereaksi positif dengan menerima secara terbuka kehadiran mobil Esemka sebagai alternatif merk. 

            Berkaca dari kegagalan uji emisi Esemka Rajawali, para pemangku kepentingan mobil Esemka—tidak hanya Rajawali tetapi juga Digdaya, Zhangaro, dan hatchback—sedari sekarang harus lebih serius mempersiapkan diri. 

            Bukan hanya sekadar untuk lolos uji emisi, tetapi harus juga mempersiapkan diri untuk memenuhi ketentuan Standar Nasional Industri (SNI).Mungkin secara teknis sebagian besar komponen sudah memenuhi SNI, hanya saja secara administratif lembaga kalibrasi seperti BSN harus menguji teknis agar diterbitkan rekomendasi kelayakan berbagai komponen mobil Esemka tersebut.

            Jadi, para pemangku kepentingan mobil Esemka jangan hanya sekadar latah ingin cepat-cepat meluncurkan mobil. Lebih baik terlambat diluncurkan tetapi mampu memenuhi segala persyaratan uji komersial, dari pada bernasib seperti Esemka Rajawali AD 1 A milik Walikota Solo Joko Widodo.

sumber : http://www.bisnis.com/articles/mobil-esemka-gagal-uji-emisi-ditantang-uji-sni