Minggu, 06 Mei 2012

Resensi Film Modus Anomali


Sedikit sekali sineas Indonesia yang memiliki kemampuan naratif baik. Era 70 – 80'an kita punyaAsrul Sani. Dan di era Youtube dan Twitter kita punya Joko Anwar
Lihat saja film-filmnya, baik saat ia menjadi sutradara/penulis atau hanya menjadi penulis saja. Setiap filmnya punya penuturan yang baik, dialog penuh punch lines dan dengan diselipkan kejutan. 
ArisanQuickie ExpressFiksi, atau Jakarta Undercover adalah film-film di mana Joko menjadi penulis. Sedang Janji Joni (2005), Kala (2007) atauPintu Terlarang (2009) adalah menjadi pembuktian bahwa di setiap filmnya Joko menetapkan standar tersendiri yang kemudian berusaha dilampauinya. 
Di tiga film terakhir yang disebut di atas, Joko terlihat memposisikan diri sebagai sineas yang gemar bermain-main dengan sebuah karakter yang diselipi berbagai sub-plot dan kemudian ia "menebar" berbagai "ranjau kejutan" yang tidak mudah ditebak. 
Joko membuktikan ia adalah seorang sineas yang gemar "memainkan" pikiran penonton dan juga menerapkan gaya cerita yang non-linear, khususnya diKala dan Pintu Terlarang. "Ranjau kejutan" yang ditebarnya terkadang menjadi petunjuk akan proyeknya yang akan datang atau sekedar menjadi penjelasan atas motivasi karakter di filmnya ketika melakukan suatu tindakan. 
Setelah 3 tahun "absen", di tahun 2012 ini, Joko lantas merilis film terbaru yang diberi judul Modus Anomali. Sebuah proyek yang gaungnya bahkan sudah bergema sejak beberapa tahun belakangan.  
Dari awal proyek Modus Anomali pun, para penggemar Joko sudah "digoda" untuk mengeluarkan ekspektasi liar. Dari teaser poster hingga ke judul filmnya yang juga merupakan "anomali" di perfilman kita. Sesuatu yang tak lazim, sesuatu yang menggugah rasa ingin tahu. 
Curiosity can kill, rasa ingin tahu akan membunuhmu bila dibiarkan terlalu liar. Dan lewat Modus AnomaliJokomembuktikan kebenaran istilah itu kepada penonton. 
Modus Anomali bercerita tentang seorang karakter pria (diperankan oleh Rio Dewanto). Dia adalah pria yang "bangkit" dari kuburnya yang terletak di sebuah hutan. Saat terjaga, sang pria tidak memiliki petunjuk apapun tentang siapa dirinya. Ia tidak tahu namanya siapa dan tidak mengetahui jati dirinya. Sama seperti penonton yang tidak punya petunjuk seperti apa film ini. 
Dia mendapati dirinya di tengah hutan yang sepi dan menemukan sebuah telepon genggam di saku celananya. Saat menghubungi nomor darurat, ia malah semakin bingung dan memutuskan menjelajah hutan. 
Di tengah pencariannya, sang pria tersebut menemukan sebuah pondok kosong dan sesosok mayat wanita hamil. Ia panik, ketakutan dan bertambah bingung. Sebuah kartu identitas yang ada di dompetnya memberi ia sedikit petunjuk bahwa ia memiliki hubungan dengan wanita di pondok itu.  
Tapi itu belumlah cukup. Lantas dengan petunjuk jam weker digital yang menunjukkan angka-angka, serta apa yang telah ia temukan, sang pria terus mencari tahu siapa ia sebenarnya. 

still photo Modus Anomali (courtesy of Lifelike Pictures)

JENIS FILM YANG MEMBUAT PENONTON TERSESAT
Modus Anomali adalah film thriller yang akan membuat Anda tersesat. Sama seperti karakter yang diperankanRio Dewanto yang tersesat mencari jati dirinya di dalam hutan. Penonton saat menyaksikan film ini juga seolah berada di tengah hutan, tanpa petunjuk, tanpa informasi, hanya berharap menemukan petunjuk yang tepat. 
Awal film saja sudah "menyesatkan". Kamera yang diarahkan oleh sinematografer Gunnar Nimpuno menyorot keindahan fauna hutan homogen itu. Sebuah keindahan yang menjadi pengalih bagi sebuah film bak kepinganpuzzle. Penonton harus menyusun setiap "kepingan puzzle" itu menjadi suatu gambaran yang utuh.  
Penonton dibuat "tersesat" dan delusional. Bagaimana tidak? Bila Anda adalah tipikal penonton yang terbiasa menyaksikan film dengan narasi linear dan Anda gemar menarik kesimpulan saat filmnya baru berjalan beberapa menit, bisa dipastikan Anda akan mudah "tersesat". Anda akan ragu dengan kesimpulan yang telah diambil, berpikir kembali dan mencoba merangkai setiap adegan yang telah berlalu.  
Terlebih bila Anda tidak akrab dengan karya Joko Anwar sebelum ini. 
Joko Anwar memainkan perasaan dan nalar penonton, seperti ketika Anda memasuki sebuah labirin yang rumit. Dan Anda harus bersabar memungut satu demi satu adegan di dalam pikiran Anda dan menyimpannya di dalam memori sebagai "bekal" untuk adegan berikut. 
Latar belakang Joko sebagai seorang kritikus film memungkinkan ia membuat jawaban atas setiap tindakan atau adegan, yang bila dilihat sepintas, tidak masuk akal. Anda akan menemukan jawabannya sendiri kemudian (atau justru membuat Anda ragu dengan jawaban Anda). 
Modus Anomali adalah tipikal film yang akan "meracuni" pikiran Anda dengan berbagai dugaan liar yang akan sulit ditemukan persamaan persepsi antara penonton satu dengan penonton lainnya. Ini adalah jenis film yang akan mengundang diskusi dan perdebatan panjang sesudahnya. 
Modus Anomali juga adalah tipikal film yang "dibenci" oleh penulis resensi. Tidak mungkin menjabarkan detail filmnya untuk mengurai kelemahan teknis. Karena bila kita akan mengurai kelemahan teknis, pasti kita akan menyebut adegan. Dan menyebut adegan dalam film Modus Anomali berpotensi memaparkan detil kunci di film ini. 
Memang layaknya keterbatasan "daya ingat" sang karakter utama, Modus Anomali juga memiliki berbagai keterbatasan. Salah satunya adalah akting Rio Dewanto
Film ini berpusat pada karakternya. Berbagai kejadian tak terduga dialami oleh sang karakter dan itu kemudian membawanya kepada paparan emosi yang luas. Diperlukan aktor dengan kemampuan menyampaikan cakupan bentang emosi yang luas dalam film klaustrofobia ini dan itu belum mampu ditampilkan Rio Dewanto secara maksimal. 
Ada beberapa adegan di mana akting Rio justru menjadi petunjuk jelas tentang jati dirinya kepada penonton (apalagi bila mereka akrab dengan film-film Joko Anwar). Bahwa penonton tidak percaya akan dirinya. Namun, sekali lagi Joko Anwar punya alasan yang kuat mengapa ia memakai Rio Dewanto dalam film ini. Bila Anda menyaksikan filmnya terdahulu, kemungkinan Anda akan mengerti. 
Kelemahan selanjutnya adalah penggunaan bahasa Inggris yang terkesan kaku dan tidak nyaman didengar. Film ini sengaja menggunakan dialog berbahasa Inggris, untuk menjelaskan beberapa detil yang tidak akan akrab dengan kultur Indonesia. Beberapa pemain memang fasih melafazkannya, misalnya Hannah Al Rashid
Penggunaan bahasa Inggris jugalah yang mungkin menjadi batasan Rio dalam menyampaikan emosi. Rio adalah aktor berbakat yang dimiliki Indonesia. Namun, memang harus diakui cara ia bermain di film ini belumlah maksimal.  

Related News




0 komentar:

Posting Komentar